
Penafikan akan polah manusia: pembingkaian berita online tentang banjir di Indonesia.
Justito Adiprasetio, Detta Rahmawan, Kunto Adi Wibowo, Dzikrifa Ningtyas Aliifa, Rudi Dwi Hartanto
Tahun: 2024
Jurnal: Media Practice and Education
DOI: https://doi.org/10.1080/25741136.2024.2443864
Pernahkah kamu merasa jika saat terjadinya banjir, media seolah-olah hanya menyoroti tingginya curah hujan dan dampaknya saja? Fenomena ini dikaji lebih mendalam melalui artikel ilmiah dengan judul “The ignorance of human cause: online news framing on floods in Indonesia” yang dipublikasikan di Jurnal Media Practice and Education pada tahun 2024. Artikel ini mengajak kita untuk membedah dan mempertanyakan ulang narasi tersebut, khususnya mengapa pemberitaan banjir seolah-olah terfragmentasi. Pola narasi yang seakan-akan menyalahkan alam sebagai pemicu utama banjir, menyebabkan kebingungan publik dalam membedakan mana banjir yang murni oleh fenomena alam, dan mana yang berakar dari campur tangan manusia, seperti deforestasi maupun kegagalan tata ruang.
Temuan dari penelitian tersebut memperlihatkan secara jelas realitas jurnalisme di Indonesia yang kita hadapi saat ini. Pada kasus banjir Jabodetabek misalnya, 50,8% berita membingkainya mutlak sebagai “bencana alam” dan hanya 14,2% artikel yang berani secara eksplisit menyebut faktor perilaku manusia dalam banjir. Dominasi ini tak lepas dari gaya liputan media yang sangat episodik, terbukti saat banjir di daerah Lebak, Banten di mana 94,7% berita hanya berfokus pada kejadian sesaat tanpa menyentuh konteks ekologi yang lebih tematik dan luas. Mirisnya lagi, berdasarkan analisis pemberitaan, perwakilan pemerintah menjadi aktor-aktor utama dalam narasi tersebut, sementara ruang untuk suara kritis seperti ahli kebencanaan dan iklim, akademisi maupun organisasi masyarakat sipil sangat minim ditemukan .
Temuan dari penelitian ini menunjukan bahwa ruang redaksi tidak serta merta secara sengaja melakukan hal tersebut, akan tetapi hal ini merupakan imbas dari realitas ekonomi-politik jurnalisme digital. Tuntutan budaya serba cepat, orientasi pasar, hingga clickbait memaksa jurnalis untuk bertindak cepat dengan mengutip narasi pemerintah saja. Bagi pembaca di kalangan mahasiswa, akademisi, maupun publik secara umum, artikel ini menjadi alarm yang menggugah kesadaran bahwa krisis ekologi yang sistemik seringkali luput dari perhatian kita, bukan karena tidak ada, akan tetapi karena tertutup oleh ekosistem media yang lebih mengutamakan kuantitas klik dan sekadar mereduksi bencana menjadi komoditas belaka.
Baca artikel selengkapnya di: https://doi.org/10.1080/25741136.2024.2443864

Leave a Reply