Kecerdasan Buatan, Perubahan Iklim, dan Prioritas untuk Bumi

Sejak pertama kali diperingati pada tahun 1970, isu peringatan Hari Bumi kini beririsan erat dengan perkembangan masif teknologi kecerdasan buatan (AI). Laporan IPCC memproyeksikan masa depan bumi yang suram akibat emisi gas rumah kaca jika tidak ada penanganan serius. Di sisi lain, AI sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari solusi krisis iklim melalui kemampuan prediksi cuaca ekstrem, pemodelan dampak lingkungan, deteksi dini bencana, hingga efisiensi dan integrasi sistem energi terbarukan.

Sayangnya, implementasi dan wacana AI di Indonesia saat ini masih sangat didominasi oleh orientasi ekonomi, investasi pusat data, dan pemasaran, atau sebatas ketakutan pada dampak negatif seperti disinformasi dan deepfake. Minim sekali riset maupun dokumen publik yang secara detail memfokuskan pemanfaatan teknologi AI untuk isu perubahan iklim. Padahal, teknologi ini seharusnya bisa diarahkan pada sektor-sektor prioritas publik yang mendesak guna membantu adaptasi dan mitigasi krisis lingkungan di tingkat nasional.

Pengembangan AI sendiri ironisnya membawa jejak ekologi yang signifikan, mulai dari tingginya emisi karbon dalam pembuatan model bahasa besar hingga besarnya konsumsi energi dan air untuk pendinginan pusat data. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk menyeimbangkan ekspansi bisnis AI dengan regulasi yang mewajibkan efisiensi energi serta mendorong pemanfaatannya secara konkret bagi pelestarian bumi.

Baca selengkapnya Opini Peneliti Actant Initiative, Detta Rahmawan di Katadata: Kecerdasan Buatan, Perubahan Iklim, dan Prioritas untuk Bumi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *