Analisis Pemberitaan dan Perbincangan Banjir Sumatera 2025

Laporan studi · CMCI Fikom Unpad × Actant Initiative

Analisis Pemberitaan dan Perbincangan Banjir Sumatera 2025

Actant Initiative

Bagaimana bencana Banjir paling parah dalam 10 tahun terakhir dibingkai sebagai krisis bantuan alih-alih krisis tata kelola, dan bagaimana media sosial menyusun narasi tandingannya.

36.847Berita media online
(populasi)
1.051Berita dianalisis
mendalam
100Konten teratas
TikTok
100Konten teratas
X / Twitter
5Wawancara
mendalam

Temuan utama

Dari 1.051 berita yang dianalisis, isu bantuan dan donasi mendominasi, muncul 450 kali. Sawit muncul 23 kali.

Temuan ini menunjukkan dominasi narasi bantuan dan minimnya root cause dan salah tata kelola lingkungan. Temuan riset ini juga menunjukkan ke mana perhatian publik diarahkan oleh media setelah banjir: pada siapa yang datang membantu, alih-alih pada mengapa bencana bisa terjadi. Dalam kerangka laporan ini, narasi bantuan bekerja sebagai mekanisme depolitisasi, negara hadir tapi secara politis tapi tidak mengurai akar masalah. Sibuk ingin terlihat sibuk tapi lambat membantu dan tanpa menyelesaikan masalah.

Metode penelitian

Angka yang dihitung,
pengalaman yang ditanyakan

Laporan ini berdiri di atas dua kaki. Analisis isi untuk memeriksa seksama apa yang muncul di permukaan: teks, gambar, video dan seberapa sering hal tersebut muncul. Wawancara mendalam menjelaskan “mengapa” hal tersebut terjadi, dan mengulas apa yang tidak sempat muncul.

Kaki pertama

Analisis isi

Pengodean sistematis atas teks yang sudah terbit, memakai protokol tetap sehingga hasilnya bisa dihitung dan diuji ulang. Yang diukur bukan kebenaran isi berita, melainkan pola: bingkai apa yang dipakai media, siapa yang dikutip, isu apa yang disebut, dan dengan nada apa.

Kerangka bingkaiSemetko & Valkenburg 2000
Kerangka beritaIyengar 1990
Kategori koding9 variabel
Koder3 orang terlatih
Kesepakatan97–100%
Krippendorff α0,70–0,80
Mesin ambilCISION; Zeeschuimer + 4CAT
Kaki kedua

Wawancara mendalam

Percakapan dengan orang-orang yang terlibat dalam kemunculan sebuah teks. Di sinilah terlihat hal yang tidak bisa dibaca dari sekadar teks: jurnalis dengan target 15 tulisan sehari, akses lapangan yang difasilitasi aparat, arahan agar liputan berfokus pada penanganan bencana, dan tekanan yang diterima kreator konten.

Informan5 orang
ProfilJurnalis, koordinator liputan, kreator
KanalZoom
Waktu11 April – 9 Mei 2026
IdentitasDirahasiakan

Dari populasi ke sampel

46.242Berita terkumpul
via CISION
36.847Setelah dua tahap pembersihan
agregator, duplikat, blog
1.051Sampel acak berlapis per minggu
MoE 5% · CI 95%

Minggu pertama (17–23 November 2025) diambil seluruhnya, bukan proporsional, karena periode itu memuat pembingkaian awal media. Data media sosial ditarik terpisah pada 1 Desember 2025 – 31 Januari 2026 karena keterbatasan API.

Limitasi penelitian

Temuan ini terikat pada rangkaian kata kunci dan periode yang spesifik, sehingga tidak dapat digeneralisasi menjadi gambaran narasi bencana di Indonesia secara umum. Ketersediaan data historis media sosial juga terbatas, dan konten Instagram dikumpulkan lewat pencarian manual karena pembatasan penarikan data.


Isu yang dibahas · n=1.051 berita

Dominasi narasi bantuan

Dari total 1.134 penyebutan isu, perhatian media didominasi oleh bantuan dan donasi. Sementara itu, isu ekologis-struktural yang menjadi akar bencana justru mendapat porsi terkecil.

0

Klik salah satu kategori untuk menyaring daftar di bawahnya

Satu liputan kuat tidak menggeser bingkai

Ketimpangan di atas bertahan meskipun sempat muncul contoh yang bergerak ke arah sebaliknya. Edisi khusus Harian Kompas bertajuk “Hutan Sumatera Lenyap” — liputan mendalam soal deforestasi akibat sawit yang disajikan lewat visualisasi pemetaan tutupan hutan dari tahun ke tahun — justru menjadi salah satu konten yang paling ramai diperbincangkan di media sosial.

Namun format interaktif yang berhasil menarik atensi sebesar itu ternyata tidak tercermin dalam arus pemberitaan media online secara keseluruhan. Sawit tetap berhenti di 23 penyebutan, dan seluruh isu ekologis-struktural hanya mencapai 107 — kurang dari seperempat penyebutan bantuan. Dengan kata lain, hilangnya tutupan hutan Sumatera sanggup menjadi isu besar ketika dikemas sebagai jurnalisme data, tetapi belum sanggup menjadi bingkai dominan dalam arus pemberitaan harian.

Sumber: Figure 6, hlm. 25. Total penyebutan (1.134) melampaui jumlah berita (1.051) karena satu berita dapat memuat lebih dari satu isu. Kategori ekologis merupakan gabungan dari Pertambangan (32), Kerusakan DAS (32), Sawit (23), dan Perkebunan lainnya (20).

Volume pemberitaan per minggu · data populasi

Sebelas minggu perhatian

Klik salah satu batang untuk melihat isu yang menonjol pada periode itu

Bingkai krisis & sentimen

Dua ruang, satu bencana

Media online dan media sosial memberitakan peristiwa yang sama dengan bingkai yang berbeda. Pilih kanal untuk membandingkan.

Bingkai krisis

Sentimen terhadap pemerintah

positif
netral
negatif

Penyebutan lokasi bencana

Bencana yang kehilangan alamatnya

Setiap kali sebuah lokasi disebut, ia dicatat pada tingkat yang paling spesifik yang muncul dalam teks. Warna provinsi menandai penyebutan tingkat provinsi; titik menandai penyebutan kabupaten atau kota. Ukuran dan pekatnya mengikuti pangsa penyebutan di kanal tersebut.

Lokasi

Sumber: Table 3 hlm. 24 (media online) dan Table 3 hlm. 43 (TikTok & X). Koordinat kabupaten/kota memakai titik ibu kota masing-masing.

Cross-post

Arus informasi tidak lagi linear

Media online memakai konten media sosial sebagai sumber visual sekaligus pemicu agenda liputan. Sebaliknya, aktor di media sosial memakai berita online sebagai bukti, sumber legitimasi, dan perlindungan dari tudingan hoaks. Arusnya bergerak melingkar, bukan satu arah.

Klik salah satu simpul untuk membaca karakteristiknya

WargaInstagramTikTokX /TwitterMediaonline

Wawancara mendalam · nama dirahasiakan

Kesaksian

Rekomendasi

Apa yang bisa dikerjakan
sebelum banjir berikutnya

Persoalan utama dalam peliputan Banjir Sumatera adalah ketergantungan media arus utama pada sumber resmi ketika akses ke lapangan dikendalikan oleh institusi pemerintah. Rekomendasi kami adalah sebagai berikut:

Untuk penyandang dana

Perkuat media lokal sebagai infrastruktur, bukan sebagai pelatihan

Pengalaman Banjir Sumatera menunjukkan media lokal di wilayah rentan belum punya kapasitas yang kuat saat krisis datang. Penguatan tidak cukup berupa pelatihan jurnalistik sesaat; yang dibutuhkan adalah dukungan pendanaan yang menyasar kelembagaan untuk memperkuat ketersediaan infrastruktur informasi (listrik, internet, dan lainnya) dalam mitigasi bencana.

Untuk CSO · posisi di ruang redaksi

Bangun relasi sebelum dibutuhkan, bukan saat mendesak

Suara CSO hadir dalam pemberitaan tetapi belum menjadi pusat narasi. Akses ke media sering bergantung pada apakah organisasi memiliki hubungan dengan editor atau jurnalis senior. WALHI menjadi CSO yang paling banyak dikutip — bukti bahwa posisi itu bisa dibangun, lewat strategi komunikasi publik dan relasi dengan media lokal, jurnalis independen, kreator konten, akademisi, dan komunitas warga.

Untuk CSO · kesiapan

Siapkan paket informasi krisis yang bisa langsung dipakai

Ketika jalur darat terputus dan jurnalis bergantung pada fasilitasi negara, yang menentukan bukan siapa yang punya argumen terbaik, melainkan siapa yang punya bahan siap pakai. Paket ini sebaiknya sudah ada sebelum bencana:

  • Peta wilayah terdampak, data konsesi, dan riwayat bencana di wilayah itu
  • Daftar perusahaan terkait dan kronologi kebijakan
  • Kontak narasumber lokal yang bisa dihubungi langsung
  • Penjelasan sederhana tentang hubungan kerusakan ekologis dan risiko banjir

Formatnya tidak harus laporan panjang. Infografik, short brief, video pendek, utas di X, atau templat TikTok justru lebih mungkin disebar ulang. Data kerusakan lingkungan bisa ditampilkan lewat peta, citra satelit, dan foto Google Earth — format yang berulang kali mendapat interaksi tinggi.

Untuk CSO · sebelum bencana

Jaringan komunitas dibangun lebih dulu

Respons setelah bencana tetap penting, tetapi advokasi yang efektif membutuhkan jaringan dari berbagai komunitas yang sudah terbentuk sebelumnya. Momentum bencana adalah saat yang tepat untuk mengemas ulang kajian yang sudah ada terkait kerusakan lingkungan, mitigasi bencana, dan lainnya, sekaligus membangun relasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat “infrastruktur sosial”.

Untuk ruang redaksi

Beri ruang untuk liputan tematik, bukan hanya episodik

Dari 1.051 berita yang dianalisis, 969 memakai bingkai episodik dan hanya 82 yang tematik. Media online berada di antara dua posisi: membuka ruang informasi, tetapi kerap gagal mendorong akuntabilitas struktural. Target produksi yang tinggi dan ketergantungan pada rilis resmi membuat bingkai pemerintah ikut ternormalkan tanpa intensi eksplisit — sesuatu yang hanya bisa dilawan lewat keputusan redaksional, bukan lewat niat individu wartawan.

Untuk publik

Dukungan pada media adalah bentuk pengawasan lingkungan

Temuan soal represi dan kontrol informasi memperlihatkan bahwa ruang liputan bisa menyempit tanpa disadari pembaca. Di tengah kemarahan publik yang muncul secara organik soal lambannya respons dan status bencana, isu kepemilikan perusahaan dan lahan di wilayah terdampak berpeluang didorong kembali dengan data kajian yang sudah tersedia. Salah satu hal yang juga bisa dikampanyekan adalah “fungsi media” — dan mengapa kerja jurnalisme perlu dukungan warga.

Prototipe interaktif dari laporan “Analisis Pemberitaan dan Perbincangan Banjir Sumatera 2025”.
Seluruh data dan kutipan berasal dari laporan CMCI Fikom Unpad × Actant Initiative.
Halaman ini satu berkas HTML, tanpa dependensi eksternal selain webfont.