Laporan studi · CMCI Fikom Unpad × Actant Initiative
Analisis Pemberitaan dan Perbincangan Banjir Sumatera 2025
Bagaimana bencana Banjir paling parah dalam 10 tahun terakhir dibingkai sebagai krisis bantuan alih-alih krisis tata kelola, dan bagaimana media sosial menyusun narasi tandingannya.
(populasi)
mendalam
TikTok
X / Twitter
mendalam
Temuan utama
Dari 1.051 berita yang dianalisis, isu bantuan dan donasi mendominasi, muncul 450 kali. Sawit muncul 23 kali.
Temuan ini menunjukkan dominasi narasi bantuan dan minimnya root cause dan salah tata kelola lingkungan. Temuan riset ini juga menunjukkan ke mana perhatian publik diarahkan oleh media setelah banjir: pada siapa yang datang membantu, alih-alih pada mengapa bencana bisa terjadi. Dalam kerangka laporan ini, narasi bantuan bekerja sebagai mekanisme depolitisasi, negara hadir tapi secara politis tapi tidak mengurai akar masalah. Sibuk ingin terlihat sibuk tapi lambat membantu dan tanpa menyelesaikan masalah.
Metode penelitian
Angka yang dihitung,
pengalaman yang ditanyakan
Laporan ini berdiri di atas dua kaki. Analisis isi untuk memeriksa seksama apa yang muncul di permukaan: teks, gambar, video dan seberapa sering hal tersebut muncul. Wawancara mendalam menjelaskan “mengapa” hal tersebut terjadi, dan mengulas apa yang tidak sempat muncul.
Analisis isi
Pengodean sistematis atas teks yang sudah terbit, memakai protokol tetap sehingga hasilnya bisa dihitung dan diuji ulang. Yang diukur bukan kebenaran isi berita, melainkan pola: bingkai apa yang dipakai media, siapa yang dikutip, isu apa yang disebut, dan dengan nada apa.
Wawancara mendalam
Percakapan dengan orang-orang yang terlibat dalam kemunculan sebuah teks. Di sinilah terlihat hal yang tidak bisa dibaca dari sekadar teks: jurnalis dengan target 15 tulisan sehari, akses lapangan yang difasilitasi aparat, arahan agar liputan berfokus pada penanganan bencana, dan tekanan yang diterima kreator konten.
Dari populasi ke sampel
via CISION
agregator, duplikat, blog
MoE 5% · CI 95%
Minggu pertama (17–23 November 2025) diambil seluruhnya, bukan proporsional, karena periode itu memuat pembingkaian awal media. Data media sosial ditarik terpisah pada 1 Desember 2025 – 31 Januari 2026 karena keterbatasan API.
Limitasi penelitian
Temuan ini terikat pada rangkaian kata kunci dan periode yang spesifik, sehingga tidak dapat digeneralisasi menjadi gambaran narasi bencana di Indonesia secara umum. Ketersediaan data historis media sosial juga terbatas, dan konten Instagram dikumpulkan lewat pencarian manual karena pembatasan penarikan data.
Isu yang dibahas · n=1.051 berita
Dominasi narasi bantuan
Dari total 1.134 penyebutan isu, perhatian media didominasi oleh bantuan dan donasi. Sementara itu, isu ekologis-struktural yang menjadi akar bencana justru mendapat porsi terkecil.
Klik salah satu kategori untuk menyaring daftar di bawahnya
Satu liputan kuat tidak menggeser bingkai
Ketimpangan di atas bertahan meskipun sempat muncul contoh yang bergerak ke arah sebaliknya. Edisi khusus Harian Kompas bertajuk “Hutan Sumatera Lenyap” — liputan mendalam soal deforestasi akibat sawit yang disajikan lewat visualisasi pemetaan tutupan hutan dari tahun ke tahun — justru menjadi salah satu konten yang paling ramai diperbincangkan di media sosial.
Namun format interaktif yang berhasil menarik atensi sebesar itu ternyata tidak tercermin dalam arus pemberitaan media online secara keseluruhan. Sawit tetap berhenti di 23 penyebutan, dan seluruh isu ekologis-struktural hanya mencapai 107 — kurang dari seperempat penyebutan bantuan. Dengan kata lain, hilangnya tutupan hutan Sumatera sanggup menjadi isu besar ketika dikemas sebagai jurnalisme data, tetapi belum sanggup menjadi bingkai dominan dalam arus pemberitaan harian.
Sumber: Figure 6, hlm. 25. Total penyebutan (1.134) melampaui jumlah berita (1.051) karena satu berita dapat memuat lebih dari satu isu. Kategori ekologis merupakan gabungan dari Pertambangan (32), Kerusakan DAS (32), Sawit (23), dan Perkebunan lainnya (20).
Volume pemberitaan per minggu · data populasi
Sebelas minggu perhatian
Klik salah satu batang untuk melihat isu yang menonjol pada periode itu
Bingkai krisis & sentimen
Dua ruang, satu bencana
Media online dan media sosial memberitakan peristiwa yang sama dengan bingkai yang berbeda. Pilih kanal untuk membandingkan.
Bingkai krisis
Sentimen terhadap pemerintah
Penyebutan lokasi bencana
Bencana yang kehilangan alamatnya
Setiap kali sebuah lokasi disebut, ia dicatat pada tingkat yang paling spesifik yang muncul dalam teks. Warna provinsi menandai penyebutan tingkat provinsi; titik menandai penyebutan kabupaten atau kota. Ukuran dan pekatnya mengikuti pangsa penyebutan di kanal tersebut.
Sumber: Table 3 hlm. 24 (media online) dan Table 3 hlm. 43 (TikTok & X). Koordinat kabupaten/kota memakai titik ibu kota masing-masing.
Cross-post
Arus informasi tidak lagi linear
Media online memakai konten media sosial sebagai sumber visual sekaligus pemicu agenda liputan. Sebaliknya, aktor di media sosial memakai berita online sebagai bukti, sumber legitimasi, dan perlindungan dari tudingan hoaks. Arusnya bergerak melingkar, bukan satu arah.
Klik salah satu simpul untuk membaca karakteristiknya
Wawancara mendalam · nama dirahasiakan
Kesaksian
Rekomendasi
Apa yang bisa dikerjakan
sebelum banjir berikutnya
Persoalan utama dalam peliputan Banjir Sumatera adalah ketergantungan media arus utama pada sumber resmi ketika akses ke lapangan dikendalikan oleh institusi pemerintah. Rekomendasi kami adalah sebagai berikut:
Perkuat media lokal sebagai infrastruktur, bukan sebagai pelatihan
Pengalaman Banjir Sumatera menunjukkan media lokal di wilayah rentan belum punya kapasitas yang kuat saat krisis datang. Penguatan tidak cukup berupa pelatihan jurnalistik sesaat; yang dibutuhkan adalah dukungan pendanaan yang menyasar kelembagaan untuk memperkuat ketersediaan infrastruktur informasi (listrik, internet, dan lainnya) dalam mitigasi bencana.
Bangun relasi sebelum dibutuhkan, bukan saat mendesak
Suara CSO hadir dalam pemberitaan tetapi belum menjadi pusat narasi. Akses ke media sering bergantung pada apakah organisasi memiliki hubungan dengan editor atau jurnalis senior. WALHI menjadi CSO yang paling banyak dikutip — bukti bahwa posisi itu bisa dibangun, lewat strategi komunikasi publik dan relasi dengan media lokal, jurnalis independen, kreator konten, akademisi, dan komunitas warga.
Siapkan paket informasi krisis yang bisa langsung dipakai
Ketika jalur darat terputus dan jurnalis bergantung pada fasilitasi negara, yang menentukan bukan siapa yang punya argumen terbaik, melainkan siapa yang punya bahan siap pakai. Paket ini sebaiknya sudah ada sebelum bencana:
- Peta wilayah terdampak, data konsesi, dan riwayat bencana di wilayah itu
- Daftar perusahaan terkait dan kronologi kebijakan
- Kontak narasumber lokal yang bisa dihubungi langsung
- Penjelasan sederhana tentang hubungan kerusakan ekologis dan risiko banjir
Formatnya tidak harus laporan panjang. Infografik, short brief, video pendek, utas di X, atau templat TikTok justru lebih mungkin disebar ulang. Data kerusakan lingkungan bisa ditampilkan lewat peta, citra satelit, dan foto Google Earth — format yang berulang kali mendapat interaksi tinggi.
Jaringan komunitas dibangun lebih dulu
Respons setelah bencana tetap penting, tetapi advokasi yang efektif membutuhkan jaringan dari berbagai komunitas yang sudah terbentuk sebelumnya. Momentum bencana adalah saat yang tepat untuk mengemas ulang kajian yang sudah ada terkait kerusakan lingkungan, mitigasi bencana, dan lainnya, sekaligus membangun relasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat “infrastruktur sosial”.
Beri ruang untuk liputan tematik, bukan hanya episodik
Dari 1.051 berita yang dianalisis, 969 memakai bingkai episodik dan hanya 82 yang tematik. Media online berada di antara dua posisi: membuka ruang informasi, tetapi kerap gagal mendorong akuntabilitas struktural. Target produksi yang tinggi dan ketergantungan pada rilis resmi membuat bingkai pemerintah ikut ternormalkan tanpa intensi eksplisit — sesuatu yang hanya bisa dilawan lewat keputusan redaksional, bukan lewat niat individu wartawan.
Dukungan pada media adalah bentuk pengawasan lingkungan
Temuan soal represi dan kontrol informasi memperlihatkan bahwa ruang liputan bisa menyempit tanpa disadari pembaca. Di tengah kemarahan publik yang muncul secara organik soal lambannya respons dan status bencana, isu kepemilikan perusahaan dan lahan di wilayah terdampak berpeluang didorong kembali dengan data kajian yang sudah tersedia. Salah satu hal yang juga bisa dikampanyekan adalah “fungsi media” — dan mengapa kerja jurnalisme perlu dukungan warga.