Pelatihan Pengumpulan dan Analisis Data Media Sosial

 

Actant Initiative menyelenggarakan pelatihan riset mengenai pengumpulan dan analisis data media sosial secara daring pada Senin (12/01/26) sampai Selasa (13/01/26). Pelatihan ini menghadirkan Rudi Hartanto, researcher Actant Initiative, sebagai trainer dan diikuti oleh mahasiswa serta perwakilan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dari berbagai universitas di Kota Bandung dan sekitarnya. 

Berangkat dari semangat Actant Initiative untuk memperkuat ekosistem riset kritis, kolaboratif, dan berbasis alat kerja (tool-oriented research), kegiatan ini dirancang sebagai ruang pembibitan kapasitas (talent capacity seeding). Fokus utama dari pelatihan ini adalah membekali peserta dengan keterampilan teknis dan metodologis untuk menjadikan media sosial sebagai sumber data yang kaya dalam menangkap berbagai fenomena di ruang digital.

Pelatihan ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting. Selama pelatihan berlangsung, peserta mendapatkan berbagai materi mengenai riset media sosial. Pada hari pertama, peserta diperkenalkan dengan dasar-dasar riset media sosial sebagai fondasi awal, mulai dari materi mengenai tantangan, tahapan, hingga limitasi riset media sosial. Peserta juga mulai diperkenalkan dengan penyusunan desain query berbasis isu yang relevan, dan praktik pengambilan data media sosial menggunakan desain query yang telah disusun. 

Selanjutnya, pada hari kedua, peserta diarahkan untuk melakukan praktik pengumpulan dan analisis data secara lebih mendalam sesuai tahapan yang telah dipelajari. Pada sesi ini, peserta terlibat dalam diskusi aktif untuk mengumpulkan data dari berbagai platform media sosial, membaca pola data yang muncul, serta mendiskusikan temuan awal yang dihasilkan dari riset yang dilakukan. 

Detta Rahmawan, Direktur Actant Initiative, mengatakan bahwa pelatihan ini bertujuan agar mahasiswa, terutama anggota LPM, agar lebih mengenal isu-isu publik yang berkembang di ruang digital. “Kami percaya bahwa kekuatan pers mahasiswa seharusnya menjadi salah satu hal yang diperhitungkan dalam konteks wacana publik,” ujar Detta. 

Rudi selaku trainer juga menambahkan bahwa kemampuan mengeksplorasi fenomena melalui data media sosial ini memungkinkan LPM untuk menghasilkan karya yang lebih tajam, mampu memotret keresahan publik terkait isu-isu penting untuk mereka, dan mendorong LPM untuk memiliki kemampuan menangkap dan menganalisis diskursus publik di media sosial. 

“Mahasiswa dan LPM sering kali memiliki kepekaan isu yang tajam, namun terkendala aspek teknis untuk mengeksplorasi media sosial secara mendalam. Pelatihan ini hadir memberikan solusi praktis agar persma memiliki keterampilan riset teknis dalam mengolah media sosial sebagai sumber data. Dengan kemampuan ini, mereka dapat lebih tajam menangkap diskursus publik, mulai dari polemik UKT hingga dinamika di akun automated fess. Mendorong LPM dan Mahasiswa untuk tetap relevan dalam mengawal isu-isu kampus dan isu-isu publik.” 

Setelah mengikuti pelatihan selama dua hari, peserta akan mempraktekkan materi yang didapat melalui mini riset dan karya jurnalistik berbasis data. Dengan begitu, pelatihan ini diharapkan menjadi pintu masuk awal untuk menumbuhkan minat, keterampilan, dan keberlanjutan penggunaan metode riset berbasis digital dalam produksi pengetahuan dan karya jurnalistik mahasiswa.

Tentang Actant Initiative

Actant Initiative merupakan lembaga konsultasi strategi komunikasi yang berangkat dari konsep Actant. Gagasan dalam pemikiran Latourian yang melihat bahwa agensi dalam narasi tidak hanya dimiliki manusia, tetapi juga juga oleh teknologi, kebijakan, infrastruktur, dan jejaring relasi yang membentuknya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *